Senin, 27 Januari 2014

MANAJEMEN PERJALANAN & PERALATAN


Perencanan perjalanan Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data-data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki. Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan : Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.
■ Mempelajari medan yang akan ditempuh.
■ Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
■ Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
■ Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.
■ Perlengkapan dasar perjalanan Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas
■ hujan, dll. Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
■ Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.
■ Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper /
■ tissu, dll. Ransel / carrier.
■ Perlengkapan pembantu Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.
■ Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada]
■ Jam tangan.

Packing atau menyusun perlengkapan kedalam ransel.
•Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.
•Masukkan dalam kantong plastik.
•Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.
•Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.
•Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.
•Buat Checklist barang barang tersebut

Pedoman Perjalanan Alam Terbuka
Untuk merencanakan suatu perjalanan ke alam bebas harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. Ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W & 1 H, yang kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When dan How.

Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut
:•Where (Dimana), untuk melakukan suatu kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan, misalnya: Tangkiling-Bukit Batu-Palangkaraya.
•Who (Siapa), apakah anda akan melakukan kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. contoh: satu kelompok (25 personil) terdiri dari 5 orang anggota penuh (panitia) dan 20 orang siswa DIKLAT (peserta)
•Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam-macam contoh : Untuk melakukan DIKLATSAR.
•When (Kapan) waktu pelaksanaan kegiatan tersebut, berapa lama ? contoh : 23 Februari 2005 sampai dengan 25 Februari 2005 Dari pertanyaan-pertanyaan 4 W, maka didapat suatu gambaran sebagai berikut: pada tanggal 23-25 Februari 2007 akan diadakan DIKLAT, yang akan dilaksanakan oleh 5 panitia dan diikuti 20 orang siswa DIKLAT. Tempat yang digunakan untuk DIKLAT tersebut yaitu di Lompobattang-Bawakaraeng.
Untuk How [Bagaimana] merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :
•Bagaimana kondisi lokasi
•Bagaimana cuaca disana
•Bagaimana perizinannya
•Bagaimana mendapatkan air
•Bagaimana pengaturan tugas panitia
•Bagaimana acara akan berlangsung
•Bagaimana materi yang disampaikan
•dan masih banyak “bagaimana ?” lagi (silahkan anda mengembangkannya lagi)
Dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun rencana gegiatan yang didalamnya mencakup rincian :
1. Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp, pembagian waktu dan sebagainya.
2. Pengurusan perizinan
3. Pembagian tugas panitia
4.Persiapan kebutuhan acara
5.Kebutuhan peralatan dan perlengkapan
6.dan lain sebagainya.

Keberhasilan suatu kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perencanaan dan perbekalan yang tepat. Dalam merencanakan perlengkapan perjalanan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah :
1. Mengenal jenis medan yang akan dihadapi (hutan, rawa, tebing, dll)
2. Menentukan tujuan perjalanan (penjelajahan, latihan, penelitian, SAR, dll)
3. Mengetahui lamanya perjalanan (misalnya 3 hari, seminggu, sebulan, dsb)
4. Mengetahui keterbatasan kemampuan fisik untuk membawa beban
5. Memperhatikan hal-hal khusus (misalnya : obat-obatan tertentu)

Setelah mengetahui hal-hal tersebut, maka kita dapat menyiapkan perlengkapan dan perbekalan yang sesuai dan selengkap mungkin, tetapi beratnya tidak melebihi sepertiga berat badan (sekitar 15-20 kg), walaupun ada yang mempunyai kemampuan mengangkat beban sampai 30 kg.

Dari kegiatan penjelajahan, ada beberapa jenis perjalanan yang disesuaikan dengan medannya, yaitu :
1. Perjalanan pendakian gunung
2. Perjalanan menempuh rimba
3. Perjalanan penyusuran sungai, pantai dan rawa
4. Perjalanan penelusuran gua
5. Perjalanan pelayaran

Untuk perjalanan ilmiah dan kemanusiaan, bisa pula dikelompokkan berdasarkan jenis medan yang dihadapi. Dari setiap kegiatan tersebut, kita dapat mengelompokkan perlengkapannya sebagai berikut :

1. Perlengkapan dasar, meliputi :
o Perlengkapan dalam perjalanan / pergerakkan
o Perlengkapan untuk istirahat
o Perlengkapan makan dan minum
o Perlengkapan mandi
o Perlengkapan pribadi

2. Perlengkapan khusus, disesuaikan dengan perjalananan, misalnya
o Perlengkapan penelitian (kamera, buku, dll)
o Perlengkapan penyusuran sungai (perahu, dayung, pelampung, dll)
o Perlengkapan pendakian tebing batu (carabineer, tali, chock, dll)
o Perlengkapan penelusuran gua (helm, headlamp/senter, harness, sepatu karet, dll)

3. Perlengkapan tambahan Perlengkapan ini dapat dibawa atau tergantung evaluasi yang dilakukan (misalnya : semir, kelambu, gaiter, dll).

Mengingat pentingnya penyusunan perlengkapan dalam suatu perjalanan, maka sebelum memulai kegiatan, sebaiknya dibuatkan check-list terlebih dahulu. Perlengkapan dikelompokkan menurut jenisnya, lalu periksa lagi mana yang perlu dibawa dan tidak. Apabila perjalanan kita lakukan dengan berkelompok, maka check-list nya untuk perlengkapan regu dan pribadi. Dalam perjalanan besar dan memerlukan waktu yang lama, kita perlu menentukan perlengkapan dan perbekalan mana saja yang dibawa dari rumah atau titik keberangktan, dan perlengkapan atau perbekalan mana saja yang bisa dibeli di lokasi terdekat dengan tujuan perjalanan kita. Yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.

Packing

Sebelum melakukan kegiatan alam bebas kita biasanya menentukan dahulu peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempacking barang-barang tersebut ke dalam carier atau backpack. Packing yang baik menjadikan perjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan.

Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking adalah :
1.Pada saat back-pack dipakai beban terberat harus jatuh ke pundak, Mengapa beban harus jatuh kepundak, ini disebabkan dalam melakukan perjalanan [misalnya pendakian] kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah karena beban backpack anda menekan pinggul belakang. Ingat : Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan punggung.
2.Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.

Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :
•Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal : alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik. •Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.
•Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: rain coat/jas hujan pada kantong samping carrier.
•Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar carrier, karena barang diluar carrier akan mengganggu perjalanan anda akibat tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking dalam carrier.
Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda, sebenarnya adalah suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa barang yang benar-benar perlu.



Memilih dan Menempatkan Barang

Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki atau kegiatan alam bebas selalu cari alat/perlengkapan yang berfungsi ganda, tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat beban yang harus anda bawa, contoh : Alumunium foil, bisa untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting bisa dilipat hingga tidak memakan tempat di carrier.
Matras ; Sebisa mungkin matras disimpan didalam carrier jika akan pergi kelokasi yang hutannya lebat, atau jika akan membuka jalur pendakian baru. Banyak rekan pendaki yang lebih senang mengikatkan matras diluar, memang kelihatannya bagus tetapi jika sudah berada di jalur pendakian, baru terasa bahwa metode ini mengakibatkan matras sering nyangkut ke batang pohon dan semak tinggi, lagipula pada saat akan digunakan matrasnya sudah kotor.

Kantung Plastik ; Selalu siapkan kantung plastik didalam carreir anda, karena akan berguna sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus anda bawa turun, baju basah dan lain sebagainya. Gunakan selalu kantung plastik untuk mengorganisir barang barang didalam carrier anda (dapat dikelompokkan masing-masing pakaian, makanan dan item lainnya), ini untuk mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin memilih pakaian, makanan dsb.

Menyimpan Pakaian ;Jika anda meragukan carrier yang anda gunakan kedap air atau tidak, selalu bungkus pakaian anda didalam kantung plastik [dry-zax], gunanya agar pakaian tidak basah dan lembab. Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan dalam kantung tersendiri dan tidak
dicampur dengan pakaian bersih.

Menyimpan Makanan ;Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani) usahakan makanan dibungkus dengan plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan kedalam keril, karena monyet-monyet didekat puncak / base camp terakhir suka membongkar isi tenda untuk mencari makanan.

Menyimpan Korek Api Batangan ;Simpan korek api batangan anda didalam bekas tempat film (photo), agar korek api anda selalu kering.

Packing Barang / Menyusun Barang Di Carrier ;Selalu simpan barang yang paling berat diposisi atas, gunanya agar pada saat carrier digunakan, beban terberat berada dipundak anda dan bukan di pinggang anda hingga memudahkan kaki melangkah.

Perlengkapan Pribadi Alam Bebas

Outdoor activity atau kegiatan alam bebas merupakan kegiatan yang penuh resiko dan memerlukan perhitungan yang cermat. Jika salah-salah maka bukan mustahil musibah akan mengancam setiap saat. Sebagai contoh, sebuah referensi pernah mencatat bahwa salah satu kegiatan alam bebas yaitu rock climbing [panjat tebing] merupakan jenis olahraga yang resiko kematiannya merupakan peringkat ke-2 setelah olahraga balap mobil formula-1.

Tentu saja resiko tersebut terjadi apabila safety-procedure tidak menjadi perhatian yang serius, tetapi apabila safety-procedure diperhatikan dan sering berlatih, maka resiko tersebut dapat ditekan sampai titik paling aman.

Perjalanan alam bebas pasti akan bersentuhan dengan cuaca, situasi medan dan waktu yang kadang tidak bersahabat, baik malam atau siang hari, oleh karena itu perlu dipersiapkan perlengkapan yang memadai.

Salah satu “perisai diri” ketika melakukan aktivitas alam bebas adalah perlengkapan diri pribadi. Berikut digambarkan beberapa perlengkapan pribadi standard.



1. Tutup kepala/topi
Untuk melindungi diri dari cuaca panas atau dingin perlu penutup kepala. Dalam keadaan panas atau hujan, maka tutup kepala yang baik adalah yang juga dapat melindungi kepala dan wajah sekaligus. Untuk ini pilihan terbaik adalah topi rimba atau topi yang punya pelindung keliling. Topi pet atau topi softball tidak direkomendasikan.
Pada cuaca dingin malam hari atau di daerah tinggi, maka penutup kepala yang baik adlah yang dapat memberikan rasa hangat. Pilihannya adalah balaklava atau biasa disebut kupluk.

2. Syal-slayer
Slayer atau syal bukan hanya digunakan sebagai identitas organisasi, tetapi sebetulnya mempunyai fungsi lainnya. Syal/slayer dapat digunakan untuk menghangatkan leher ketika cuaca dingin, dapat juga digunakan sebagai saringan air ketika survival. Syal/slayer juga sangat berguna ketika dalam keadaan darurat, baik digunakan untuk perban darurat atau sebagai alat peraga darurat. Oleh karenanya disarankan menggunakan syal/slayer yang berwarna mecolok dan terbuat dari bahan yang kuat serta dapat menyerap air namun cepat kering.

3. Baju
Kebutuhan ini multak, tidak bisa beraktivitas tanpa baju [bayangkan kalau tanpa ini, maka kulit akan terbakar matahari]. Baju yang baik adalah dari bahan yang dapat menyerap keringat, tidak disarankan menggunakan baju dari bahan nilon karena panas dan tidak dapat meyerap keringat. Baju dengan bahan demikian biasanya adalah planel atau paling tidak kaos dari bahan katun.Pilihan warna untuk aktivitas lapangan seperti halnya juga slayer/syal adalah yang mencolok agar bisa terjadi keadaan darurat [misalnya hilang] dapat dengan mudah diidentifikasi dan dikenali.

Dalam beraktivitas di alam bebas jangan pernah melupakan baju salin/ganti, hal ini karena aktivitas lapangan akan sangat banyak mengeluarkan energi yang membuat badan kita berkeringat. Bawalah baju salain 2 atau 3 buah.

4. Celana
Celana lapang yang baik adalah yang memnuhi syarat ringan, mudah kering dan dapat menyerap keringat. Pemakaian bahan jeans sangat tidak direkomendasikan karena berat dan susah kering dan membuat lecet. Celana yang baik adalah kain dengan tenunan ripstop [bila berlubang kecil tidak merembet atau robek memanjang]. Bila aktivitas dilakukan di daerah pantai atau perairan juga baik bila menggunakan bahan dari parasut tipis.Selain celana panjang, jangan lupa bahwa under-wear juga penting. jangan lupa juga untuk menyediakan serep ganti.



5. Jaket
Salah satu perlengkapan penting dalam alam bebas adalah jaket. Jaket digunakan untuk melindungi diri dari dingin bahkan sengatan matahari atau hujan.Jaket yang baik adalah model larva, yaitu jaket yang panjang sampai ke pangkal paha. Jaket ini juga biasanya dilengkapi dengan penutup kepala [kupluk]. Akan sangat baik bila jaket yang memiliki dua lapisan (double-layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin. Kini teknologi tekstil sudah mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki bahan ini memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah mengeluarkan keringat mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proff) sayang, bahan ini masih mahal. Yang paling baik jaket terbuat dari bulu angsa-biasanya digunakan untuk kegiatan pendakian gunung es].

6. Slepping bag
Istirahat adalah kebutuhan pegiat alam bebas setelah aktivitas yang melelahkan seharian. Tempat istirahat yang ideal adalah dengan menggunakan slepping bag [kantong tidur]. Slepping bag yang baik juga biasanya terbuat dari dua sisi, yaitu yang dingin, licin dan tahan air satu sisi, dan yang hangat dan tebal disisi lain. Penggunaannya sesuai dengan cuaca saat istirahat.

7. Sepatu
Sepatu yang baik yaitu yang melindungi tapak kaki sampai mata kaki, kulit tebal tidak mudah sobek bila kena duri. keras bagian depannya, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terbentur batu. bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kaku, ada lubang ventilasi bersekat halus. Gunakan sepatu yang dapat dikencangkan dan dieratkan pemakaiannya [menggunakan ban atau tali. Dilapangan sepatu tidak boleh longgar karena akan menyebabkan pergesekan kaki dengan sepatu yang berakibat lecet. Penggunaan sepatu juga harus dibarengi dengan kaos kaki. Untuk ini juga sebaiknya disediakan kaos kaki serep bila suatu saat basah.

8. Carrier
Carrier bag atau ransel sebaiknya gunakan yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlampau kecil, artinya mampu menampung perlengkapan dan peralatan yang dibawa. Sebaiknya jangan menggunakan carrier yang mempunyai banyak kantong dibagian luar karena dalam keadaan tertentu ini akan menghambat pergerakan. Gunakan carrier yang ramping walaupun agak tinggi, ini lebih baik daripada yang gemuk tetapi rendah. Sebelum berangkat harus diperhatikan jahitan-jahitannya, karena kerusakan pada jahitan terutama sabuk sandang akan berakibat sangat fatal.

9. Alat masak, makan dan mandi
Perlengkapan sangat penting lainnya adalah alat masak, makan dan mandi. Bagimanapun juga dalam kondisi lapangan kita sangat perlu untuk menghemat aktu dan bahan masalak. Gunakan alat dari alumunium karena cepat panas, untuk ini nesting menjadi pilihan yang sangat baik, disamping dia ringkas dan serba guna. Juga perlu dipersiapkan alat bantu makan lainnya (sendok, piring, dll) dan pastikan bahan bakar untuk memasak / membuat api seperti lilin, spirtus, parafin, dll.Jangan lupa juga siapkan phiples minum sebagai bekal perjalanan [saat ini banyak tersedia model dan jenis phipless].Perlengkapan mandi juga sangat penting karena tidak jarang perjalanan dilakukan berhari-hari dengan tubuh penuh keringat. Bawalah alat mandi seperti sabun yang berkemasan tube agar mudah disimpan dan tidak perlu membuang sampah bungkusan disembarang tempat.

10. Obat-obatan dan Survival Kits
Perlengkapan pribadi lainnya yang sangat penting adalah obat-obatan, apalagi kalau pegiat mempunyai penyakit khusus tertentu seperti asma. Disamping obat-obatan juga setidaknya mempunyai kelengkapan survival kits.

Perencanaan Perbekalan

Dalam perencanaan perjalanan, perencanaan perbekalan merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

Lamanya perjalanan yang akan dilakukan
Aktifitas apa saja yang akan dilakukan
Keadaaan medan yang akan dihadapi (terjal, sering hujan, dsb)

Sehubungan dengan keadaan diatas, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam merencanakan perjalanan:
a. Cukup mengandung kalori dan mempunyai komposisi gizi yang memadai.
b. Terlindung dari kerusakan, tahan lama, dan mudah menanganinya.
c. Sebaiknya makanan yang siap saji atau tidak perlu dimasak terlalu lama, irit air dan bahan bakar.
d. Ringan, mudah didapat
e. Murah
Untuk dapat merencanakan komposisi bahan makanan agar sesuai dengan syarat-syarat diatas, kita dapat mengkajinya dengan langkah-langkah berikut :Dengan informasi yang cukup lengkap, perkirakan kondisi medan, aktifitas tubuh yang perlukan, dan lamanya waktu. Perhitungkan jumlah kalori yang diperlukan.Susun daftar makanan yang memenuhi syarat diatas, kemudian kelompokan menurut komposisi dominan. Hidrat arang, ptotein, lemak, hitung masing-masing kalori totalnya (setelah siap dimakan).Perhitungan untuk vitamin dan mineral dapat dilakukan terakhir, dan apabila ada kekurangan dapat ditambah tablet vitamin dan mineral secukupnya.

Catatan :

Kandungan kalori :
- hidrat arang 4 kal/gr
- lemak 9 kal/gr
- protein 4 kal/gr

Kalori paling cepat didapat dari :
1. Hidrat arang
2. lemak
3. protein

Kebutuhan kalori per 100 pounds berat badan (sekitar 45 kg)
1 Metabolisme basal 1100 kalori
2 Aktifitas tubuh :
Jalan Kaki 2 mil/jam 45 kal/jam
3 mil/jam 90 kal/jam
4 mil/jam 160 kal/jam

Memotong kayu/tebas
260 kal/jam

Makan
20 kal/jam

Duduk (diam) 20 kal/jam

Bongkar pasang ransel, buat camp
50 kal/jam

Menggigil
220 kal/jam
3 Aktifitas dinamis khusus = 6 - 8 % dari 1 dan 2
4 Total kalori yang dibutuhkan = 1 + 2 + 3

Jenis Bahan Makanan dan Macam Makanan
Sumber kalori dari hidrat arang tiap 100 gram
Beras giling 360 kal Nasi 178 kal
Havermout 390 kal Kentang 90 kal
Singkong 140 kal Macaroni 363 kal
Maizena 343 kal Roti 248 kal
Tape singkong 173 kal Gaplek 363 kal
Biskuit 458 kal Sagu 353 kal
Terigu 365 kal Ubi 123 kal
Gula pasir 364 kal Gula aren 368 kal
Madu 294 kal Coklat pahit 504 kal
Coklat manis 472 kal Coklat susu 381 kal

Sumber Protein (tiap 100 gram)
Tempe 119 kla
Kacang tanah rebus dengan kulit 360 kal
Telur ayam 162 kal
Telur bebek 189 kal

Sumber protein dan lemak (tiap 100 gram)

Corned 241 kal
Daging asap 191 kal
Dendeng 433 kal
Sardens 338 kal
Menu makanan satu hari :
Mie 1.5 gelas 335 kal
Susu kental manis ½ gelas 336 kal
Dodol ½ ons 200 kal
Coklat 1 ons 472 kal
Nasi 2 ons 360 kal
Roti 1 ons 248 kal
Biscuit 1 ons 458 kal
Corned ½ ons 120 kal
Dendeng 1 ons 433 kal

TOTAL 2962 kal “

Bila engkau tidak dapat menjadi beringin yang tegak diatas puncak bukit, maka jadilah saja rumput, tetapi rumput yang tumbuh memperkuat tanggul. Bila engkau tidak bisa menjadi jalan besar, maka jadilah saja jalan setapak, tetapi jalan setapak yang menuju ke mata air. Tidak semuanya dapat menjadi nahkoda, tentu harus ada kelasi. Sebaik-baiknya engkau adalah menjadi dirimu sendiri.”

Perjalanan ke alam terbuka pasti mengandung resiko. Tiap perjalanan memiliki tingkat resiko dan bahaya yang bervariasi.bahaya dan resiko tersebut dapat jauh diminimalisir dengan berbagai persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain:

1.Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter [Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut], atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

2.Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

3.Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

4.Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

5.Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

6.Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.

7.Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.

Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan.

Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem [kebanggaan /kepercayaan diri].

Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki gunung. Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki gunung.

Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya, sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan self-esteem pendaki tersebut. Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan.

Persiapan mendaki gunung

Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan ketrampilan.
•Kesiapan mental. Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.
•Kesiapan fisik. Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya]. Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.
•Kesiapan administrasi. Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.
•Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan.
Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC [emergency medical care] praktis.

Mengenal Jenis Gunung dan Grade Pendakian

Pada garis besar gunung terbagi menjadi 2, yaitu gunung berapi/aktif dan tidak aktif. Berdasar bentuknya dibagi menjadi :
1.Gunung berapi perisai (Gunung berapi lava) == seperti perisai
2.Gunung berapi strato
3.Gunung berapi maar == Gunung berapi yang meletus sekali dan segala aktivitas vulkanisme terhenti, yang tinggal hanya kawahnya saja.
Macam dan tingkat pendakian gunung macam pendakian, yaitu pendakian gunung bersalju (es) dan gunung batu. Keduanya mambutuhkan persiapan dan perlengkapan yang matang. Menurut Club "Mountaineers", Seatle Washington, dasar pembagian tingkat pendakian ada dua cara.


1. Berdasar penggunaan alat teknis yang dipakai ( class)
•class 1 ; lintas alam tanpa bantuan tangan
•class 2 ; dibutuhkan bantuan tangan
•class 3 ; pendakian yang mudah memerlukan kaki dan tangan dalam mendaki, tali mungkin dibutuhkan oleh pemula
•class 4 ; pendakian memerlukan tali pengaman
•class 5 ; dibutuhkan tali dan pengaman peralatan lain seperti : piton, runner, chocks dll
•class 6 ; mandaki dengan tali dengan peralatan bantuan sepenuhnya berpijak
diatas paku tebing, memenjat rantai sling atau mengunakan stirupss Pendakian claass 4 masuk dalam katagori scrembling [Mendaki dengan cara mempergunakan badan sebagai keseimbangan serta tangan untuk berpegangan dengan medan yang miring sampai 45 derajat] dan class 5 - 6 sudah dapat dikatagorikan sebagai climbing [panjat]. Dimana class 5 merupakan free-climbing [Pemanjatan dengan tanpa menggunakan alat tehnis untuk menambah ketinggian, alat hanya sebagai pengaman saja ] dan class 6 adalah artificial climbing [Pemanjatan dengan menggunakan alat tehnis sebagai pembantu menambah ketinggian, misalnya dipijak atau disentak dan dipegang ]. Apa bila dilakukan di gunung batu / cadas disebut rock climbing dan bila dilakukan di gunung es disebut dengan snow and ice climbing .

2. Berdasar lama waktu akibat sukarnya pendakian dalam medan pendakian (grade)
•grade I, bagian yang sukar dapat ditempuh dalam beberapa jam
•grade II, bagian yang sukar ditempuh dalam setengah hari
•grade III, bagian yang sukar ditempuh dalam sehari penuh
•grade IV, bagian yang sukar ditempuh dalam sehari penuh dan memerlukan bantuan lereng-lereng sempit untuk bisa naik
•grade V, bagian yang sukar ditempuh dalam waktu 1,5-2,5 hari
•grade VI, bagian yang sukar ditempuh dalam waktu 2 hari atau lebih dan dengan banyak sekali kesulitan

3. Berdasarkan tingkat keamanan pemanjat dari kemampuan alat yang digunakan
•A1 ;aman sekali, peralatan yang dipasang dan digunakan dapat diandalkan untuk menjaga keselamatan pendaki
•A2 ;aman, jikapun terjadi masalah, alat masih dapat diandalkan untuk mencegah akibat yang lebih fatal [misalnya jatuh tidak sampai kedasar]
•A3 ;penggunan alat pengaman cukup aman tetapi tidak dapat diandalkan untuk menjaga resiko jatuh, kecuali dengan pemasangan yang sangat teliti dan fall-faktor yang tidak terlalu berbeban tinggi. Bila fall faktor tinggi, maka alat-alat akan copot dan pendaki bisa menerima akibat fatal
•A4 ;pengaman yang digunakan tidak dapat diharapkan untuk dapat menahan beban jatuh, cenderung hanya sebagai pengaman psykologis untuk menguatkan mental pendaki

4. Berdasarkan tingkat kesulitan [difficult] medan pendakian
Tingkatan pedakian dengan dasar perhitungan ini bisa disebut juga dengan Yossemite Decimal System [YDS]. Pang-katagorian berasal dari USA dan saat ini banyak di gunakan untuk menentukan grade kesulitan panjat tebing. Oleh karena itu YDS dimulai dengan grade 5 dan seterusnya. Pengkatagorian demikian biasanya digunakan untuk jenis pendakian free-climbing atau free-soloing [Memanjat sendiri tanpa alat bantu dan pengaman apapun, biasanya pada jalur pendek]

Anehnya YDS sendiri menyalahi kaidah matematis penghitungan decimal, dimana misalnya suatu jalur mempunyai ketinggian 5,9 [lima point sembilan] lalu grade selanjutnya menjadi 5.10 [lima point sepuluh]. Peng-angka-an ini menjadi “aneh” akibat grade 5.9 lebih rendah dibanding dengan 5.10, padahal dalam matematika sebaliknya.

YDS sendiri diawali dengan grade 5.8 atau 5.9, selanjutnya 5.10, 5.11, 5.12, 5.13 dan 5.14. Sampai saat ini tidak ada grade melebihi 5.14.

Perkembangan keanehan peng-angka-an decimal ini menurut beberapa diskusi pegiatan pendakian dan panjat tebing akibat keselahan memprediksikan kemampuan pendakian pada saat system YDS dipublikasikan. Dimana pada saat itu diperkirakan kemampuan pendakian / panjat hanya sampai grade 5.9. Padahal dalam kemudian berkembangan kemampuan pendakian / pemanjatan yang lebih mutakhir dan luar bisa.

Bahkan saking sulitnya menentukan dengan hanya angka-angka decimal yang terbatas,
seiring dengan banyaknya jalur pendakian/pemanjatan yang dibuat oleh kalangan pemanjat, maka grade decimalpun ditambahkan dibelangkannya dengan alfhabet.
Contoh; 5.12a, 5.13 d atau 5.14 c
Memang sampai saat sekarang barangkali hanya ada beberapa jalur yang dibuat manusia dengan grade 5.14, itupun terbatas pada jalur-jalur pendek.

Secara umum grading dengan YDS dapat dijelaskan sebagai berikut :
•5.8 ; jalur yang ditempuh mudah, grip [pegangan] sangat bisa digunakan oleh bagian tubuh yang ada untuk menambah ketinggian
•5.9 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari
•5.10 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari, hanya saja perlu keseimbangan [balance] yang baik
•5.11 ; dapat bertahan pada 2 atau 3 grip dengan satu diantaranya sangat minim dan perlu keseimbangan. Jalur hang hampir bisa dipastikan memiliki grade demikian.
•5.12 ; terdapat 2 dari 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian. Dengan kondisi grip yang kecil di satu bagiannya atau paling tidak sama
•5.13 ; hanya 1 dari diantara 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian, itupun dengan grip yang sangat minim.
•5.14 ; “mulus seperti kaca”, tidak mungkin terpikirkan untuk dapat dibuat jalur pendakian/pemanjatan Makanan (logistik)

Makanan yang dibawa seharusnya dapat memenuhi kebutuhan energi pendaki, selama pendakian seserorang membutuhkan sitar 5.000 kalori dan 100 gram protein, kalori dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi. Namun ada baiknya hanya memakan nasi satu kali sehari di kala malam (saat berkemah) alasayanya beras realtif berat dan memerluakan waktu yang lama untu memasak serta menghabiskan banyak bahan bakar. Fungsi beras dapat diganti dengan roti, biskuit, coklat, dan hevermit.

Hal yang perlu diperjatikan hindari mengkonsumsi makanan yang harus dimasak lebih dahulu selama mendaki, karena hal ini hanya akan merepotkan dan menghabiskan waktu perjalanan. Pilihlah makanan praktis seperti coklat, roti, agar-agar, buah-buahan, dapat juga dibuat mixfood yang terdiri atas kacang, coklat, biskuit dan kismis.

Umumnya makanan yang paling praktis dibawa adalah makanan instan yang memiliki kemasan, buanglah kemasan karton sebelum dimasukan dalam ransel dengan demikian berat ransel dapat berkurang dan makanan yang dibawapun tidak banyak memakan tempat didalam ransel.

Peralatan lain

Selain peralatan dan sejumlah perlengkapan, jangan lupa membawa perlengkapan kecil yang terdanag dirasa sepele, namun amat penting. Perlengkapan itu berupa obat-obatan seperti pelester, obat merah, tisu basah dan kering, senter, benang, jarum jahit, jam dan alat tulis. Peralatan itu terkandang dibutuhkan dalam keadaan darurat atau menjaga tubuh tetap bersih.

Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah jangan lupa membawa tas / kantong plastik, tas plastik tersebut dibutuhkan untuk menaruh barang-barang yang kotor dan basah sebelum dicuci dan tas plastik juga berfungsi untuk membawa kembali sampah-sampah pendakian, sampah-sampah sisa makanan atau berkemah, janganlah dibuang begitu saja di alam terbuka. Selain megotori, membuang sampah dapat menyulitkan usaha pencarian dan pertolongan bagi pendaki yang tersesat atau mengalami kecelakaan, kerap kali usaha pencarian oarang tersesat terbantu dengan petunjuk dari barang-barang yang tercecer.

Jenis-Jenis Pendakian / Perjalanan

Olah raga mendaki gunung sebenarnya mempunyai tingkat dan kualifikasinya. Seperti yang sering kita kenal dengan istilah mountaineering atau istilah serupa lainnya. Menurut bentuk dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering dapat dibagi sebagai berikut :

1. Hill Walking / Feel Walking

•Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relatif landai. Tidak membutuhkan peralatan teknis pendakian. Perjalanan ini dapat memakan waktu sampai beberapa hari. Contohnya perjalanan ke Gunung Gede atau Ceremai.

2. Scarmbling

•Pendakian setahap demi setahap pada suatu permukaan yang tidak begitu terjal. Tangan kadang-kadang dipergunakan hanya untuk keseimbangan. Contohnya : pendakian di sekitar puncak Gunung Gede Jalur Cibodas.

3. Climbing

•Dikenal sebagai suatu perjalanan pendek, yang umumnya tidak memakan waktu lebih dari 1 hari,hanya rekreasi ataupun beberapa pendakian gunung yang praktis. Kegiatan pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik mendaki dan penguasaan pemakaian peralatan.
Bentuk climbing ada 2 macam :
a. Rock Climbing- pendakian pada tebing-tebing batau atau dinding karang. Jenis pendakian ini yang umumnya ada di daerah tropis.
b. Snow and Ice Climbing- Pendakian pada es dan salju. Pada pendakian ini, peralatan-peralatan khusus sangat diperlukan, seperti ice axe, ice screw, crampton, dll.

Rabu, 04 Desember 2013

Spirit of Indonesian Youth Expedition Part III (SIYE III) MAHAPALA UNNESSampai PUNCAK ACONCAGUA

Puncak dari kiri Miftakhul ulum, Hermawati, Putra Triya Atmaja
Tim ekspedisi Spirit of Indonesian Youth Expedition Part III (SIYE III) Mahasiswa pencinta Alam (Mahapala Unnes) akhirnya berhasil mencapai  puncak Gunung Aconcagua pada ketinggian 6962 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tim Mahapala Unnes yang berada di Indonesia pagi ini telah menerima pemberitahuan dari Tim Atlet SIYE III Mahapala Unnes yang terdiri atas Miftakhul Ulum, Hermawati, Putra Triya Atmaja, melalui telfon satelit dan dari situs resmi Tour Guide Aymara melalui guide (pemandu) Miguel Lopez, bahwa tim sampai di puncak tertinggi Benua Amerika pada tanggal 1 Desember 2013 pukul 15.30 waktu setempat.
“Assalamuaalikum, Alhamdulillah kami berhasil, walaupun kami sempat terkena Badai angin besar.  Tapi dengan semangat dan kondisi yang masih memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, kami paksakan diri ini untuk terus maju mengibarkan Merah Putih, bendera Unnes, dan panji kebanggaan kita Mahapala Unnes. Waktu di puncak hanya 15 menit untuk mengambil dokumentasi, dan tim harus kembali turun karena cuaca yang tidak kondusif. Sekarang kondisi tim sehat, salam untuk Keluarga, teman-teman semua di Semarang. Wassalamualaikum,” kata Miftakhul Ulum sebagaimana ditirukan dari telfon Satelit.
Ketika mengabarkan hal itu, ketiganya berada di Plaza De Mulas 4.300 mdpl. Setelah itu, mereka berencana melanjutkan turun ke Confluencia 3300 mdpl dan langsung ke First Base Camp Plaza de Inca 2.700 mdpl. Dikabarkan pula, tim dalam kondisi baik, meski semalaman diterjang badai angin dan hujan salju.
Perjalanan
Perjalanan menuju Puncak Aconcagua (6962 mdpl) pada 1 Desember Agustus ternyata tak semudah saat tim melakukan hal yang sama pada 25 November  untuk aklimatisasi. Tim diterjang badai dengan angin kencang dan hujan salju, namun dengan akhirnya bisa sampai di puncak tertinggi Benua Amerika.
Setelah aklimatisasi  di Plaza de Mulas (4300 mdpl) dan beristirahat, seharusnya tim melakukan perjalanan menuju plaza Canada 4910 mdpl akan tetapi ditunda satu hari. Sehingga jadwal ke puncak terpaksa mundur dari target pendakian tanggal 30 November 2013 ditunda sampai tanggal 1 Desember 2013 pukul 06.00 waktu setempat.
Setelah cuaca dirasa membaik, tim mulai mempersiapkan diri untuk melakukan pendakian ke puncak pukul 06.00 waktu setempat. Dengan langkah pasti dan perlahan, tim mulai menapaki meter per meter ketinggian terakhir di tanah tertinggi Amerika itu . Meski badai belum reda benar, dan Guide sempat melarang Tim untuk menuju puncak tim dengan semangat, tetap berjuang mencapai puncak Aconcagua (6962 mdpl). (SCH.516)


Senin, 25 November 2013

AKLIMATISASI PLAZA DE MULAS - PLAZA CANADA ACONCAGUA TIM SIYE III MAHAPALA UNNES


Plaza de Mulas
Jumat, 22 November Mahasiswa Pencintaalam (Mahapala) Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang terdiri atas Miftakhul Ulum, Putra Triya Atmaja dan Hermawati bersama Miguel Guide (pemandu) mengawali perjalanan dari Plaza Confluencia (3300 mdpl). Dengan suhu 5 derajat celcius, atlet berjalan dengan target waktu 10 jam tetapi atlet bisa menempuh waktu hanya selama 8 jam 15 menit, sehingga pukul 16.30 waktu setempat tiba di Plaza de Mulas (4200 mdpl).
Sabtu, 23 November Tim kemudian menetap di plaza de Mulas untuk menyesuaikan diri pada ketinggian. Selain itu Tim juga ada cek kesehatan yang dilakukan oleh Dokter pada pukul 11.00 waktu argentina. Berita yang kami tunggu-tunggu dari tim akhirnya sampai, Atlet memberi kabar sekiar pukul 13.00 waktu argentina bahwa atlet lolos cek kesehatan di Plaza de Mulas. Camp di Plaza de Mulas telah diselimuti salju, karena hari itu suhu minus 5 derajat celcius. Pendakian harus dilakukan secara bertahap dan seperti naik turun gunung untuk pencapaaian menambah ketinggian. Target Restday atlet adalah pengambilan dokumentasi, pelatihan pemakaian alat pendakian, istirahat maksimal untuk tenaga pendakian esok harinya. Di Plaza de Mulas ada fasilitas listrik, atlet pun bisa mencharge alat elektronik, alat dokumentasi dan alat komunikasi. Fasilitas wifi juga ada akan tetapi fasilitas internet belum dibuka untuk para pendaki. Internet hanya khusus untuk pemantauan cuaca di gunung Aconcagua.
“Semua lolos cek kesehatan, Kondisi atlet sehat, cuaca cerah, suhu minus 5 celcius tetapi prediksi besok cuaca mendung dan hujan salju”, pesan dari tim ke Mahapala Unnes via telfon satelit.
Minggu, 24 November aklimatisasi yang seharusnya ke Bonette (5100 mdpl) tetapi aklimatisasi di batalkan dan diganti aklimatisasi ke plaza Canada ketinggian 4910 mdpl. Atlet mulai aklimatisasi pukul 10.00 waktu argentina. Dengan suhu minus 7 derajat sampai air dibotol membeku tim mencapai aklimatisasi ke Plaza Canada dengan waktu tempuh 3 jam 40 menit. Dan waktu tempuh turun hanya 1 jam. Peralatan yang dibawa atlet 4 liter air minum, Down jacket (jaket tebal bahan dari bulu angsa), rain coat (pakaian melindungi diri dari air), jaket power extream (jaket tahan dingin), Sky google (kacamata salju), senter.
Senin, 25 November Aklimatisasi lagi menuju ke plaza Canada, dengan target aklimatisasi yaitu membawa barang logistik dan peralatan atlet dengan total berat 40 kg, serta barang bawaan pribadi atlet jumlah 11 kg. Pukul 09.00 waktu setempat atlet mengirim pesan melalui telfon satelit dengan memberikan informasi bahwa atlet sarapan dan akan dilanjutkan streaching dan packing. Kami pun membuat janji untuk menelfon atlet pukul 10.00 waktu setempat.
“Kami akan melanjutkan aklimatisasi ke palaza Canada, tim tetap semangat dan untuk nafsu makan tidak bermasalah” kata Miftakhul Ulum dalam Telfon
Hingga berita ini diturunkan, tim sedang berjuang untuk menuju Plaza Canada (4910 mdpl). Rencananya hari ini tim kembali lagi ke Plaza de Mulas dan besok kembali lagi ke plaza Canada untuk menginap disana. Demi kelancaran kegiatan ekspedisi ini kami anggota Mahapala Unnes setiap malam di mulai pukul 19.00 WIB melaksanakan doa bersama. Mohon doa restu kepada  selu
ruh anggota aktif Mahapala Unnes, Alumni Mahapala Unnes, Keluarga besar Unnes bagi tim Miftakhul ulum, Putra Triya Atmaja, Hermawati semoga di beri kesehatan, kekuatan dan cuaca yang mendukung. Ma`rifah NTA.SCH.516

Sabtu, 23 November 2013

Semangat Kalian Semangat Kita

Semangat menggelora Mahapala Unnes untuk go Internasional dari tahun 2009 tidak luput dari semangat anggota aktif dan dukungan dari para alumni Mahapala Unnes serta Unnes. Promosi Konservasi Unnes dan promosi budaya serta pembuktian Semangat pemuda Indonesia dalam menorehkan prestasi dalam bidang Kepencintaalaman. Inilah perkembangan kegiatan Spirit of Indonesian Youth expedition Part III Mahapala Unnes Mt. Aconcagua (6962 mdpl) :

22  November 2013 Pukul 19.00 Wib Keluarga Besar Mahapala Unnes melaksanakan kegiatan rutin untuk atlet. Tadarus bersama untuk mendoakan Tim yang ada di Argentina. Sebelum Sholat isya berjamaah, Ma`rifah mendapatkan sms dari atlet via telfn Satelit " Tim Sehat, sekarang jalan menuju ke plaza de Mulas, Mulai perjalanan pukul 8.15 Waktu Argentina".
Atlet berjalan dengan menggunakan tenaga dan semangat mereka, di Mahapala Unnes keluarga Besar mendoakan Tim agar kegiatan lancar, tim selalu di beri kesehatan dan keselamatan.

Pukul  5.17 WIB (23 November) atau pukul 19.00 Waktu Argentina (22 November) Tim memberikan kabar bahwa atlet sampai di plaza de Mulas pukul 16.30 Waktu Argentina. Dari target waktu yang disampaikan atlet, Tim bisa sampai di basecamp hanya dengan waktu tempuh  8 jam 15 menit. Malam setelah atlet tiba mereka melakukan Breafing dengan Guide dan dilanjut breafing atlet. Plaza de Mulas (4200 mdpl) dimana atlet melakukan aklimatisasi, rest day selama dua hari, dan cek kesehatan kedua.

Malam ini, Paginya Argentina Atlet kami telfn via telfnnya Ruang PR 3, Alhamdulillah kondisi atlet sehat, Cuaca cerah, suhu minus 5 derajat celcius.
Ketika kami Telfon sekitar pukul 20.00 WIB atau pukul 10.00 waktu Argentina atlet baru saja sarapan dengan Roti, Selai, Telor, teh. Walaupun fasilitas Listrik dan Wifi belum disediakan oleh Aymara (Tour Guide) Untuk peralatan dokumentasi atlet masih mempunyai cadangan batrei powerbank. Dari informasi yang kami dapat untuk cek kesehatan nantinya yang akan memeriksa keadaan Tim adalah wanita, yang sebelumnya di Plaza Francia di cek oleh Dokter laki-laki.

Untuk kegiatan selama di Plaza de Mulas atlet banyak minum air hangat dan dalam masalah makan atlet tidak bermasalah.
"Kami,Ulum,  Putra, Herma Sehat, nanti pukul 11 kami akan melakukan cek kesehatan, doakan kami semoga Tim lancar". Kata Ulum dalam percakapan kami melalui tetfn Satelit.
Saat Ini atlet penyesuaian diri diketinggian 4200 mdpl selama dua hari yang nantinya akan melanjutkan lagi ke ketinggian 5100 mdpl. Mohon Doa Restu. Mae_Sch.516 (23/11)
With Aymara Tour Guide

Perjalanan di Mount. Aconcagua Mahapala Unnes

Senin,18 November tim Mahassiswa pencinta alam (Mahapala) Universitas negeri semarang(Unnes) yang terdiri atas Miftakhul Ulum, Putra Triya Atmaja, dan Hermawatitiba di kota Mendoza. Perjalanan menggunakan Bus waktu tempuh selama 15 jam,sehingga tiba pukul 14.30 waktu setempat. Tim menginap di hotel NH Cordilleradengan agenda kegiatan bertemu dengan Miguel Lopez Guide(Pemandu) tim Mahapala untuk breafing dan checking alat.
Hari berikutnya 19 NovemberTim bersama Miguel Lopez (Pemandu) menuju ke tempat persewaanalat untuk menyewa Sleeping bag, Googles (kacamata salju), Matras Udara, Doublepastic boot (Sepatu khusus untuk pendakian di gunung es).
“agendahari ini kami ke Aymara untuk pelunasan biaya pendakian, membayar biayaperijinan pendakian, ke wilayah Puente de inca (2700 mdpl), dan menimbangbarang untuk di angkut Mulas” kata Miftakhul Ulum melalui Skype
Barangbarang yang akan dibawa di timbang untuk kemudian nantinya akan dibawa olehMulas (Hewan seperti Keledai). Tim kemudian bersama Guide dengan waktu tempuhtiga jam sampai di  wilayah Pinitenteskaki gunung Aconcagua jarak 3 km dari  Puentede Inca (2700 mdpl) untuk membayar biaya perijinan pendakian dan bermalam disitu.

 “Kondisi kami alhamdulillah sehat semua, Kami sudah di Puentedel Inca (2700 mdpl) dan besok pagi hari kami akan meneruskan pendakian ke CampConfluencia (3300 mdpl) dan camp di sana. Minta doanya dan salambuat semua teman di Semarang dan keluarga kami. Kami akan tetap berjuang untukmenyukseskan amanah ini,” begitu salah satu ucapan Hermawati satu-satunya perempuanpendaki dalam tim.
20 November2013 Tim melanjutkan perjalanan selama hampir 4 jam ke Confluencia camp (3300mdpl) yang merupakan first base camp pendakian di kaki gunung Aconcagua.
Pendakianharus dilakukan secara bertahap. Sebagian alat tim dibawa oleh Mulas. DiAconcagua untuk awal pendakian harus menggunakan bantuan hewan seperti Keledai.Karena barang bawaan tim lebih dari 30 kg. Tim menginapan di Confluencia campdengan menggunakan tenda. Suhu yang minus 4 derajat celcius, Tim tetap sehat.
21November 2013 berjalan ke Plaza de Francia untuk aklimatisasi di ketinggian4000 mdpl, aklimatisasi berjalan lancar. Tim istirahat di Confluencia kembali.Hari ini adalah cek kesehatan Atlet, penentuan dimana tim bisa melanjutkanperjalanan sampai ke puncak atau malah pulang ke Mendoza. Sekitar pukul 21.00WIB Tim mengabari Mahapala Unnes, Tim berhasil lolos cek Kesehatan. Legarasanya tim Bisa kembali melanjutkan perjalanan esok hari.

TidakLupa Keluarga besar Mahapala Unnes selalu mendoakan melalui sholat isyaberjamaah dan tadarus Alquran.
Hinggaberita ini diturunkan, 22 November 2013 Tim sedang berjalan menuju ke Plaza deMulas yaitu Base camp terbesar kedua sebelum Everest dengan target waktu 10 jam.Keep Fighting. Mae_Sch.516

Sabtu, 02 November 2013

Restu Orang Tua Untuk Kesuksesan SIYE III MAHAPALA UNNES

Orang Tua Atlet dan Atlet
Tiga orang tua mahasiswa pecinta alam (Mahapala) Universitas Negeri Semarang (Unnes) merestui anaknya mendaki ke Gunung Aconcagua dengan ketinggian 6.962 meter diatas permukaan laut (mdpl) di Argentina, benua Amerika.
Mereka Bapak Khoiri ayah Atlet Miftakhul Ulum, Bapak Maman ayah Atlet Hermawati, dan Bapak Siswanto ayah Putra Triya Atmaja. Komitmen itu ditandai dengan penandatangani surat ijin orang tua sebagai salah satu syarat pemberangakatan, Jumat(1/11) di Rektorat Kampus Sekaran.
Hadiri pada kegiatan itu, Bapak Drs Ruswondho dosen pendamping Mahapala, Ketua Mahapala, Ketua Panitia ekspedisi, Ketua Tim Teknis, serta anggota Mahapala Unnes.
“Kami merestui anak kami untuk pendakian ke Gunung Aconcagua, kami berterima kasih kepada Unnes yang mempercayakan dan memberi amanah kepada anak kami menjadi atlet ekspedisi,” Kata Bapak Khoiri.
Semoga kegiatan ekspedisi ini berjalan lancar tanpa ada halangaan suatu apa pun, atlet bisa sampai puncak dengan mengibarkan bendera Unnes, bendera Indonesia, dan kembali pulang selamat sampai Unnes lagi, doa Khoiri.
Edi Soedjoko MPd koordinator dosen pendamping Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) minat dan kegemaran menyampaikan salam dari Rektor Prof Fathur Rokhman bahwa atlet yang naik ke gunung Aconcagua ini telah disiapkan fisik dan mentalnya mulai dari proses seleksi yang ketat sampai dengan latihan yang keras, semoga bisa sukses.
Edi Soedjoko Mpd menambahkan, Spirit of Indonesian Youth Expedition Part III (SIYE 3) ini akan berangkat tanggal 14 November 2013 dari kampus Unnes menuju bandara A Yani Semarang, Sukarno Hatta Jakarta, menuju Buenos Aries Argentina.

Kamis, 24 Oktober 2013

3 ATLET ACONCAGUA MAHAPALA UNNES TRAINING CENTRE DI SEMERU

3 Atlet dan Pendamping SIYE III MAHAPALA UNNES
Training center Gunung Semeru Spirt of indonesian Youth Expedition Part III MAHAPALA UNNES (SIYE III MAHAPALA UNNES) yang merupakan training center terakhir sebelum terlaksananya kegiatan pendakian kegunung aconcagua, Argentina, Amerika.
Pendakian ke gunung Semeru ini Atlet Miftakhul ulum (22 tahun), Putra triya Atmaja (21 tahun), Hermawati (22 tahun) didampingi oleh Muhammad Syafii (Ketua Tim Teknis) dan Muhammad Ulin Nuha (Sie Dekdok). Training center ini mempunyai target simulasi ekspedisi yang disebut mini expedition. Semua peralatan, logistik dan pelatihan dari tim teknis memberikan konsep seperti tim seakan-akan sudah di Aconcagua. Target latihan pelatihan Dokumentasi fotografi bagi atlet, latihan alat  ice climbing, latihan fisik aklimaisasi, dan manajemen prjalanan panjang.
Sekitar pukul 21.00 atlet  dilepas dengan sambutan dari ketua panitia dan ketua mahapala. Pendamping yang sudah tiba terlebih dahulu di Surabaya, tim atlet enyusul mengguakan kereta.
“jaga kondisi fisik kalian, jangan lupa target dari kegiatan TC terakhir di Gunung Semeru, jaga kekompakan tim,  tetap semangat dan positif thinking “ kata Ma`rifah (Ketua Panitia ekspedisi SIYE III).
Tiket kereta tim atlet berangkat pukul 22.00, mereka brangkat melalui Poncol.

“Ini Keretanya baru jalan Mae (Panggilan untuk Ma`rifah)” sms dari Ulum (ketua tim pendakian)
“ya, hati-hati, jaga tim selalu” balas Mae.

Pada pukul 4.00 tim sudah sampai pasar turi, tim dijemput oleh teman-teman dari Wanala Unair dan di antar ke terminal Bungurasih untuk bertemu dengan tim pendamping. Ternyata dari Semarang menuju Surabaya tim bareng dengan Priyo handoko ( atlet Kilimanjaro, Tanzania 2009). Perjalanan dilanjutkan menuju ke terminal harjosari, Malang perjalanan 2 jam.  Sampai Malang dilanjutkan lagi ke Tumpang dengan biaya perjalanan Rp 8.000 lama perjalanan 1 jam. Tim makan siang di tumpang, dan ke ranu pane dengan Jeep biaya Rp. 33.000/orang.
“Perijinan kami di Ranu pane semua, kami naik Jeep sampai perigaan Bromo, jalan terlebih dahulu sekitar 1,5 km dilanju ngojek sampai Ranu pane” sms dari Ulum.
Ini laporan terakhir dari tim Semeru, nantikan cerita dan laporan perjalanan slanjtnya. Semoga tim baik-baik saja dan melaksanakan latihan sesuai target. Aconcagua GO..GO..